Sabtu, 04 Oktober 2014

Ayat-Ayat: Allah Menyelesaikan (1)

Kej_2:2  Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. [Versi TB]

Kej 2:2  Pada hari yang ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan-Nya itu, lalu Ia beristirahat. [Versi BIS]

1Raj_8:15  Ia berkata: "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang telah menyelesaikan dengan tangan-Nya apa yang difirmankan-Nya dengan mulut-Nya kepada Daud, ayahku, demikian: [Versi TB]

1Raj 8:15  Ia berkata, "Dahulu TUHAN telah berjanji kepada ayahku Daud begini, 'Sejak Aku membawa umat-Ku keluar dari Mesir, di seluruh negeri Israel tidak ada satu kota pun yang Kupilih menjadi tempat di mana harus dibangun rumah untuk tempat ibadat kepada-Ku. Tetapi engkau, Daud, Kupilih untuk memerintah umat-Ku.' Terpujilah TUHAN Allah Israel yang sudah menepati janji-Nya itu!" [Versi BIS]






Jumat, 03 Oktober 2014

Keluarbiasaan Tuhan

Keluarbiasaan Tuhan yang dinyatakan melalui nyanyian pujian Musa dan orang Israel dalam Keluaran 15 [versi bahasa Indonesia sehari-hari]:

15:1  Lalu Musa dan orang-orang Israel menyanyikan nyanyian ini untuk memuji TUHAN, "Aku mau menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia telah menang dengan gemilang. Semua kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.
[Perhatikan, yang menang adalah Tuhan bukan Musa. Seringkali kita minta Tuhan memberikan kemenangan dalam peperangan kita. Seharusnya kita minta Tuhan lah yang berperang dan biarlah Ia menyatakan kemenangan-Nya]


15:2  TUHAN pembelaku yang kuat; Dialah yang menyelamatkan aku. Ia Allahku, aku mau memuji Dia, Allah pujaan nenek moyangku, kuagungkan Dia.

15:3  TUHAN adalah pejuang yang perkasa, TUHAN, itulah nama-Nya.

15:4  Tentara Mesir dan semua keretanya dilemparkan-Nya ke dalam laut. Perwira-perwira yang paling gagah tenggelam di Laut Gelagah.
[berapapun gagahnya manusia, tidak mungkin bisa menang melawan Tuhan. Perwira-perwira yang gagah itu tenggelam dalam laut seperti patung ditenggelamkan].

15:5  Mereka ditelan laut yang dalam, dan seperti batu turun ke dasarnya.

15:6  Kekuatan-Mu sangat menakjubkan, ya TUHAN, Kaubuat musuh habis berantakan.
[Tuhan tidak mungkin membiarkan diri-Nya dipermalukan. Kuncinya adalah apakah kita sinkron dengan Tuhan, dengan hati Tuhan atau tidak?]

15:7  Dengan keagungan-Mu yang besar Kaubinasakan semua yang melawan Engkau. Kemarahan-Mu berkobar seperti api, dan membakar mereka seperti jerami.

15:8  Laut Kautiup, air menggulung tinggi, berdiri tegak seperti tembok, sehingga dasar laut dapat dilalui.

15:9  Kata musuh, 'Mereka akan kukejar dan kutangkap, kuhunus pedangku, dan kutumpas mereka. Lalu semua harta mereka kurampas, kubagi-bagikan dan kunikmati sampai puas.'

15:10  Tetapi TUHAN dengan sekali bernapas mendatangkan bagi Mesir hari yang naas. Mereka tenggelam seperti timah yang berat di dalam gelora air yang dahsyat.
[bayangkan metafora ini: Tuhan hanya bernafas saja Mesir sudah naas. Jangankan Tuhan marah. Bayangkan, malaikat hanya menampar saja, Herodes sudah mati dimakan cacing [Kis. 12]. Apalagi kalau malaikat melakukan "smack-down"? Bagaimana nasib Herodes? Biarlah manusia merendahkan diri]

15:11  Allah mana dapat menandingi Engkau, ya TUHAN Yang Mahamulia dan suci? Siapa dapat membuat keajaiban-keajaiban dan perbuatan besar seperti TUHAN?

15:12  Kaurentangkan tangan kanan-Mu, maka lenyaplah musuh ditelan bumi.

15:13  Kaupimpin bangsa yang telah Kauselamatkan ini, karena Engkau setia kepada janji-Mu. Dengan kekuatan besar mereka Kaulindungi, dan Kaubimbing ke tanahmu yang suci.

15:14  Bangsa-bangsa mendengarnya dan gemetar; orang Filistin dan para pemimpin Edom gempar. Orang Moab yang perkasa menggigil, orang Kanaan berkecil hati.

15:18  Engkaulah TUHAN, Raja, yang memerintah selama-lamanya."

15:19  Pada waktu orang Israel menyeberangi laut, mereka berjalan di dasarnya yang kering. Tetapi ketika kereta-kereta Mesir dengan kuda dan penunggangnya masuk ke dalam laut, TUHAN membuat airnya mengalir kembali sehingga mereka tenggelam.

Keinginan Hati Tuhan

Keluaran 15:26: "Kata TUHAN, "Taatilah Aku dengan sungguh-sungguh, dan lakukanlah apa yang Kupandang baik; ikutilah semua perintah-Ku. Kalau kamu berbuat begitu, kamu tidak akan Kuhukum dengan penyakit-penyakit yang Kutimpakan kepada orang Mesir. Akulah TUHAN yang menyembuhkan kamu." [Versi Bahasa Indonesia Sehari-Hari]

Ketika orang Israel mengalami air pahit di Mara, lalu Tuhan membuat air menjadi tawar, Tuhan menyampaikan isi hati-Nya:

Pertama, taatilah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jangan melawan Tuhan dan jangan tidak sungguh-sungguh mengikuti Tuhan. Lakukan yang terbaik untuk Tuhan.

Kedua, lakukan apa yang Tuhan pandang baik, bukan apa yang kita atau orang lain pandang baik. Hendaklah kita selalu bertanya: apa yang Tuhan inginkan dalam hal ini?

Ketiga, ikutilah semua perintah Tuhan. Apa yang diinginkan Tuhan dalam firman Tuhan, hendaknya kita mengikutinya.

Mari kita minta anugerah Tuhan untuk menyenangkan Tuhan.

Kamis, 02 Oktober 2014

T. M Moore: Disiplin (2)

Lebih jauh lagi disiplin cenderung melibatkan investasi waktu yang signifikan. Untuk melakukannya kita harus mengorbankan kegiatan lain yang mungkin, sebaliknya kita pilih untuk melakukannya dan memusatkan waktu serta tenaga untuk menguasai disiplin tersebut yang kita harap akan menghasilkan apa yang diharapkan bagi kita. Kita harus ingin melepaskan hal-hal tertentu yang kita nikmati - makanan, kegiatan waktu kosong atau istirahat - dengan tujuan memberikan waktu dan tenaga yang diperlukan untuk memperoleh bentuk, menjadi pekerja yang lebih baik, atau mempersiapkan pekerjaan baru. Dan disiplin cenderung mendapatkan penyesuaian dari waktu ke waktu. Seperti kita telah mencapai tingkat pertama dari kemampuan atau penguasaan, kita dapat mengatur disiplin kita dengan tujuan mendorong pada tingkatan tetap yang lebih tinggi.

(dari buku "Disiplin Anugerah" [Malang: SAAT])

T. M Moore: Disiplin (1)

Disiplin merupakan sesuatu di mana kita tunduk kepadanya untuk menghasilkan perubahan. Seperti Dallas Willard berkata, "Disiplin merupakan kegiatan apapun untuk mencapai kekuatan yang kita sertakan agar memampukan kita melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan dengan tindakan langsung". Seperti menurunkan berat badan atau membentuk tubuh (sehingga kita akan terlihat dan merasa lebih baik dan hidup lebih lama), atau mempelajari keterampilan baru dalam pekerjaan (sehingga kita mendapatkan promosi yang aman, meningkat atau posisi yang lebih baik). Kita tidak dapat membuat diri merasa lebih baik, dan tidak dapat mencapai promosi atau kemajuan dengan diri kita sendiri, sehingga kita tunduk pada disiplin tertentu yang kita percaya akan memampukan kita menyelesaikan hal-hal itu bukan secara mendadak dalam kuasa kita.

Disiplin dapat memerlukan sejumlah besar tindakan. Kita mendorong tubuh kita untuk tingkatan-tingkatan baru suatu penyelenggaraan seperti kita menjalani latihan-latihan harian kita atau kita meningkatkan pemikiran kita dalam arah yang baru untuk memahami beberapa urutan baru atau menguasai beberapa teknologi baru. Kita memaksa otak dan tubuh kita untuk berkonsentrasi, kegiatan yang berat dengan tujuan mempersiapkan diri untuk menerima tugas-tugas atau tanggung jawab baru atau menerima gaya hidup yang baru. Disiplin yang baik memerlukan keterlibatan pemikiran yang serius - dalam merencanakan, mengawasi kemajuan, mengevaluasi tingkatan kemampuan dan seterusnya.

bersambung...

(dari buku "Disiplin Anugerah" [Malang: SAAT])

Rabu, 01 Oktober 2014

Errol Hulse: Etika Kaum Puritan: Pengasuhan Anak

"Etika kaum Puritan tentang mengasuh anak adalah melatih anak-anak dengan cara yang harus mereka jalani, memelihara tubuh dan jiwa mereka secara bersama-sama, dan mendidik mereka cara hidup yang sederhana, saleh, dewasa, dan berguna dalam masyarakat. Cara hidup keluarga Puritan didasarkan atas keteraturan, kesopanan, dan ibadah rumah tangga (ibadah keluarga). Kehendak yang baik, kesabaran, kemantapan dalam bertindak dan sikap yang membangun dianggap sebagai kebajikan mendasar dalam keluarga".

(dari buku "Darah dan Api Kaum Puritan [Jakarta: Delima])

Errol Hulse: Etika Kaum Puritan: Perkawinan

"Etika kaum Puritan tentang perkawinan ialah tidak mencari teman hidup yang dicintai secara emosional saat ini saja, tetapi seseorang yang dapat terus dicintai sebagai teman terbaik sepanjang hidup dan kemudian meminta pertolongan Tuhan untuk mewujudkannya".

(dari buku "Darah dan Api Kaum Puritan" [Jakarta: Delima])