Senin, 12 Mei 2014

Pdt. Stephen Tong: Injil Dan Kebudayaan (2)

Kedua, sifat universal. Karena keselamatan Kristus berasal dari kekekalan maka kuasa keselamatan-Nya pun melampaui batas-batas geografi. "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu baru tiba kesudahannya" (Mat. 24:14). "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Mat. 28:19). Kedua ucapan itu telah memecahkan konsep orang Yahudi yang sempit, dan menyatakan sifat universal dari Injil.

Injil sanggup menyempurnakan masyarakat/ manusia dari aspek apapun, termasuk kebudayaan, negara, atau aliran pikiran apapun. Injil juga bisa memenuhi kebutuhan hidup setiap orang. Sebenarnya di dalam dunia tidak ada satu orang pun yang tidak memerlukan Injil Yesus Kristus, maka kita tidak boleh menunjukkan diskriminasi rasial tetapi seharusnya tidak memberitakan Injil dengan sikap mental yang mengasihi suku-suku mana pun yang Tuhan bebankan dalam hati kita untuk menginjilinya. Kita harus memberitakan Injil tanpa memandang bulu. Pahamilah sifat dasar Injil yang universal ini, supaya tatkala kita memberitakan Injil, kita juga memiliki jiwa universal.

Ketiga, sifat peperangan. Injil bukan merupakan suatu gerakan indoktrinasi agama, juga bukan suatu pengajaran teoretis yang rasional saja, atau pun gerakan perluasan norma-norma etika, melainkan semacam peperangan rohani yang merebut manusia keluar dari aliran hidup Adam kembali kepada Yesus Kristus berdasarkan kuasa Tuhan. Ini adalah suatu peperangan. Jika kita memegang kuat konsep ini, maka pelayanan kita tidak akan bersandar pada diri sendiri, tetapi sebaliknya bersandar pada Tuhan dengan iman yang teguh, sambil melakukan semua pelayanan dengan kebijaksanaan, strategi dan kemampuan yang berasal dari Roh Kudus.

(dari buku "Theologi Penginjilan" [Surabaya: Momentum])

Pdt. Stephen Tong: Injil Dan Kebudayaan (1)

Pertama, sifat kekal. Injil sama sekali tidak mungkin berubah menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan hanya karena kemajuan zaman atau karena zaman telah berubah. Sifat kekal dan tidak berubah ini ada padanya, karena Injil adalah kehendak Allah yang telah Dia tetapkan di dalam dalam kekekalan. Injil bukanlah hasil produksi zaman; sebab itu, tidak mungkin tergeser oleh zaman.

Injil akan selalu segar, selalu baru walaupun harus melewati segala zaman. Anak Domba yang tersembelih, yang dicatat dalam Kitab Wahyu adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dunia dijadikan untuk menyatakan bahwa Allah menebus umat pilihan-Nya melalui kematian Kristus sehingga mereka disebut sebagai Gereja. Semua itu bukan merupakan tindakan Allah yang bersifat kebetulan dalam sejarah, melainkan merupakan tindakan yang bersifat kekal.

Bagi Allah tidak ada peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Rencana Allah yang kekal adalah Injil. Jika kita tidak melihat sifat kekal dari Injil ini, kita pasti terbawa oleh zaman yang tidak menentu arahnya. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh memahami makna Injil, yang tidak akan tunduk terhadap zaman karena segala sesuatu yang dihasilkan oleh suatu zaman pasti akan digugurkan oleh zaman lain. Namun tidaklah demikian dengan Injil Yesus Kristus yang sumbernya adalah kekal.

bersambung...

(dari buku "Theologi Penginjilan" [Surabaya: Momentum])

Minggu, 11 Mei 2014

Kalimat Penting: William Edgar: Pendosa Modern & Postmodern

[tentang perumpamaan anak yang hilang dan anak sulung]

"Ada 2 macam pendosa. Pertama, pendosa postmodern yang segalanya relatif: "Jika aku rasa nyaman maka aku lakukan". Kedua, pendosa modern yaitu "Aku yang pegang kendali", "menurut akalku", "aku bisa memahami segala-galanya", "jangan ganggu aku, karena aku aman". 

(dari Ringkasan Khotbah GRII Kemayoran Jakarta, 04 Mei 2014)

Kalimat Penting: William Edgar: 2 Macam Pendosa Talenta

[tentang perumpamaan anak yang hilang dan anak sulung]

"Ada 2 macam pendosa dalam dunia. Pertama, yang terhilang habiskan dan sia-siakan talenta yang mereka miliki. Kedua, yang terus pegangi talenta dengan rasa takut dan iri".

(dari Ringkasan Khotbah GRII Kemayoran Jakarta 04 Mei 2014)

Sabtu, 10 Mei 2014

Herman Bavinck: Mengapa Firman Tuhan Ditulis? (2)

Selain itu, penyataan tidak dimaksudkan bagi satu generasi dan hanya satu masa saja, tetapi bagi seluruh umat manusia dan segala masa. Hanya ada satu kebenaran dan kekristenan adalah agama universal. Dengan cara bagaimana lagi maksud firman tertulis ini akan dicapai selain dengan dicatat atau ditulis? Gereja tidak dapat melakukan pelayanan firman ini. Tidak ada janji tentang infalibilitas [ketidakbersalahan] gereja. Di dalam Kitab Suci gereja dirujuk pada firman yang objektif, kepada "pengajaran dan kesaksian" (bdk. Yes. 8:20).

(dari buku "Dogmatika Reformed" [Surabaya: Momentum])

Herman Bavinck: Mengapa Firman Tuhan Ditulis? (1)

Kitab Suci adalah satu-satunya sarana yang memadai untuk melawan kerusakan yang terjadi pada firman lisan dan yang menjadikannya milik semua umat manusia. Bunyi suara telah berlalu, namun huruf yang tertulis tetap ada. Singkatnya hidup ini, tidak dapat diandalkannya ingatan, kelicikan hati manusia dan banyak lagi bahaya-bahaya lain yang mengancam kemurnian transmisi menjadikan inskripturasi [penulisan] firman lisan mutlak niscaya jika firman itu ingin dipelihara dan disebarkan. Dalam hal firman yang dinyatakan, hal ini bahkan berlaku pada taraf yang lebih tinggi. Karena Injil bukan hal yang menyenangkan manusia; Injil secara langsung bertentangan dengan pemikiran-pemikiran dan harapan-harapan mereka, dan sebagai kebenaran ilahi, menyibakkan kesalahan mereka.

(dari buku "Dogmatika Kristen: Prolegomena" [Surabaya: Momentum])

Jumat, 09 Mei 2014

Kalau Menderita... Hati-Hati Berdoa...

Ketika kita berada dalam penderitaan kita ingin cepat-cepat mendapat solusinya. Mengalami penderitaan itu memang tidak enak. Karena itu, kita mencari jalan agar segera selesai. Kadang-kadang dalam kondisi seperti ini, kalau kita tidak menjaga mulut kita maka doa-doa kita bisa berbahaya dan salah. Ada orang berkata, "Tuhan, kalau Engkau ada, sembuhkan saya", seolah-olah keberadaan Tuhan ditentukan oleh kita sembuh atau tidak. Yang lain lagi berkata, "Tuhan, kalau Engkau baik, selesaikan persoalan saya", seolah-olah Tuhan baik atau tidak ditentukan oleh persoalan kita selesai atau tidak. Ada doa yang tidak disadari begitu kejam, "Tuhan, mengapa semua ini terjadi pada saya?", seolah-olah lebih baik terjadi pada orang lain saja, jangan pada saya. Mari kita hati-hati berdoa pada waktu menderita.