[Salah satu bagian dari kalimat terakhir John Owen]:
"I am going to Him whom my soul hath loved, or rather hath loved me with an everlasting love; which is the whole ground of my consolation. The passage is very irksome and wearisome through strong pain of various sorts... I am leaving the ship of the church in a storm, but while the great Pilot is in it the loss of a poore under rower will be inconsiderable".
(Saya sedang pergi kepada Dia yang dicintai oleh jiwa saya atau lebih tepatnya Dia yang mencintai saya dengan kasih yang kekal, yang menjadi seluruh dasar bagi penghiburan saya. Hidup ini sangat menjemukan dan sangat melelahkan melalui penderitaan yang kuat dari banyak bagian... Saya sedang meninggalkan kapal gereja di tengah badai tetapi ketika Pilot besar ada di dalam kapal itu, hilangnya "kekuatan" [terjemahan bebas, saya tidak mendapatkan arti istilah "poore"] dari pendayung bukanlah hal yang harus dipikirkan).
(dari buku "John Owen: The Man and His Theology")
Renungan, Kutipan, Ayat dalam Teologi Reformed untuk Memperlengkapi Gereja bagi Kemuliaan Tuhan
Rabu, 04 Desember 2013
Selasa, 03 Desember 2013
Kalimat Penting: Billy Graham: Kuasa Firman Allah (2)
"I had used from twenty-five to one hundred passages of Scripture with every sermon and learned that modern man will surrender to the impact of the Word of God".
(Saya telah menggunakan kira-kira dua puluh lima sampai seratus bagian Alkitab setiap kali khotbah dan saya belajar bahwa manusia modern akan menyerahkan diri kepada dampak dari Firman Allah)
(Saya telah menggunakan kira-kira dua puluh lima sampai seratus bagian Alkitab setiap kali khotbah dan saya belajar bahwa manusia modern akan menyerahkan diri kepada dampak dari Firman Allah)
Kalimat Penting: Billy Graham: Kuasa Firman Allah (1)
"I have had the privilege of preaching the Gospel on every continent in most of the countries of the world. And I have found that when I present the simple message of the Gospel of Jesus Christ with authority, quoting from the Word of God - He takes that message and drives it supernaturally into the human heart".
(Saya menerima hak istimewa untuk memberitakan Injil di setiap benua di kebanyakan negara di dunia. Saya menemukan bahwa ketika saya mempresentasikan berita sederhana dari Injil Yesus Kristus dengan otoritas, mengutip dari Firman Allah - Allah mengambil berita itu dan menggerakkannya secara supranatural dalam hati manusia).
(Saya menerima hak istimewa untuk memberitakan Injil di setiap benua di kebanyakan negara di dunia. Saya menemukan bahwa ketika saya mempresentasikan berita sederhana dari Injil Yesus Kristus dengan otoritas, mengutip dari Firman Allah - Allah mengambil berita itu dan menggerakkannya secara supranatural dalam hati manusia).
Senin, 02 Desember 2013
Matthew Henry: Mengakui Allah (Ams. 3:6)
[Ams 3:6: "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."]
Akuilah Allah dalam segala lakumu. Kita bukan saja wajib percaya dalam pertimbangan kita, bahwa ada tangan Allah yang berkuasa mengatur dan menempatkan kita beserta segenap urusan kita, tetapi juga harus mengakui dan melayangkannya kepada Allah dengan segala kesungguhan hati. Kita harus meminta izin dariNya dan tidak merencanakan sesuatu selain dari yang kita yakini diperbolehkan. Kita harus meminta nasehat dan memohon bimbinganNya, bukan hanya ketika sedang menghadapi perkara yang sulit saja (yaitu ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dan harus melayangkan pandangan kita ke arahNya), tetapi juga dalam segala hal, semudah apapun perkara itu.
Kita tetap harus mendoakannya kepada Allah mohon keberhasilan, karena kita tahu bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat. Kita harus memandangNya sebagai sumber dari segala pertimbangan kita, dan menantikan imbalan dariNya dengan sabar dan keberserahan yang kudus. Dalam segala laku kita yang kudus, mudah dan menyenangkan, yang memberi kita kepuasan, kita harus mengakui Allah dengan segenap rasa syukur.
Dalam segala laku kita yang menyakitkan dan menyulitkan, yaitu jalan yang dipagari dengan duri-duri, kita harus mengakui Allah dengan tunduk dan berserah diri. Mata kita harus selalu tertuju kepada Allah. Kepada Dialah kita harus menyatakan segala permintaan kita, dalam hal apapun sebagaimana Yefta membawa seluruh perkaranya ke hadapan TUHAN, di Mizpa (Hak. 11:11). Untuk mendorong kita supaya berlaku demikian, di sini dijanjikan bahwa "Ia akan meluruskan jalanmu, sehingga jalanmu akan berakhir dengan baik dan aman, dan perkaramu berakhir menyenangkan".
Perhatikanlah, orang-orang yang menempatkan diri mereka di bawah bimbingan ilahi akan selalu mendapatkan keuntungan darinya. Allah akan memberi mereka hikmat yang bermanfaat untuk membimbing sehingga mereka tidak akan menyimpang ke dalam dosa, dan akan mengatur segala sesuatu sedemikian bijaknya sehingga hal itu mendatangkan kebaikan bagi mereka. Orang-orang yang setia mengikuti tiang awan dan api akan mendapati bahwa tiang-tiang itu menunjukkan jalan yang benar dan pada akhirnya akan membawa mereka ke tanah Kanaan, sekalipun pada mulanya mereka dibawa berkeliling.
(dari "Tafsiran Kitab Amsal" [Surabaya: Momentum])
Akuilah Allah dalam segala lakumu. Kita bukan saja wajib percaya dalam pertimbangan kita, bahwa ada tangan Allah yang berkuasa mengatur dan menempatkan kita beserta segenap urusan kita, tetapi juga harus mengakui dan melayangkannya kepada Allah dengan segala kesungguhan hati. Kita harus meminta izin dariNya dan tidak merencanakan sesuatu selain dari yang kita yakini diperbolehkan. Kita harus meminta nasehat dan memohon bimbinganNya, bukan hanya ketika sedang menghadapi perkara yang sulit saja (yaitu ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dan harus melayangkan pandangan kita ke arahNya), tetapi juga dalam segala hal, semudah apapun perkara itu.
Kita tetap harus mendoakannya kepada Allah mohon keberhasilan, karena kita tahu bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat. Kita harus memandangNya sebagai sumber dari segala pertimbangan kita, dan menantikan imbalan dariNya dengan sabar dan keberserahan yang kudus. Dalam segala laku kita yang kudus, mudah dan menyenangkan, yang memberi kita kepuasan, kita harus mengakui Allah dengan segenap rasa syukur.
Dalam segala laku kita yang menyakitkan dan menyulitkan, yaitu jalan yang dipagari dengan duri-duri, kita harus mengakui Allah dengan tunduk dan berserah diri. Mata kita harus selalu tertuju kepada Allah. Kepada Dialah kita harus menyatakan segala permintaan kita, dalam hal apapun sebagaimana Yefta membawa seluruh perkaranya ke hadapan TUHAN, di Mizpa (Hak. 11:11). Untuk mendorong kita supaya berlaku demikian, di sini dijanjikan bahwa "Ia akan meluruskan jalanmu, sehingga jalanmu akan berakhir dengan baik dan aman, dan perkaramu berakhir menyenangkan".
Perhatikanlah, orang-orang yang menempatkan diri mereka di bawah bimbingan ilahi akan selalu mendapatkan keuntungan darinya. Allah akan memberi mereka hikmat yang bermanfaat untuk membimbing sehingga mereka tidak akan menyimpang ke dalam dosa, dan akan mengatur segala sesuatu sedemikian bijaknya sehingga hal itu mendatangkan kebaikan bagi mereka. Orang-orang yang setia mengikuti tiang awan dan api akan mendapati bahwa tiang-tiang itu menunjukkan jalan yang benar dan pada akhirnya akan membawa mereka ke tanah Kanaan, sekalipun pada mulanya mereka dibawa berkeliling.
(dari "Tafsiran Kitab Amsal" [Surabaya: Momentum])
Matthew Henry: Iman Sejati (Ams. 3:5)
[Ams 3:5: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."]
Kita harus menaruh segenap keyakinan kita di dalam hikmat, kuasa dan kebaikan Allah, meyakinkan diri kita mengenai jangkauan pemeliharaanNya yang terulur kepada segenap makhluk ciptaanNya beserta segala tindak tanduk mereka. Oleh karena itu, kita harus percaya kepada TUHAN dengan segenap hati kita (ay. 5). Kita harus percaya bahwa Dia sanggup melakukan apa pun yang Ia kehendaki, dan bijak melakukan yang terbaik. Kita juga harus percaya bahwa Ia sangat baik, sesuai dengan janjiNya, untuk melakukan yang terbaik bagi kita, jika kita mengasihi dan melayaniNya. Dengan segenap hati yang tunduk dan puas, kita harus sepenuhnya mengandalkan Dia untuk menjalankan segala sesuatu bagi kita dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri seolah-olah kita mampu menyokong diri kita sendiri dan menyelesaikan semua tugas kita dengan baik tanpa pertolongan Allah.
Orang-orang yang mengenal diri mereka sendiri dengan baik pastilah mendapati bahwa pengertian mereka hanyalah seperti buluh yang terkulai, yang pasti patah jika mereka bersandar kepadanya. Dalam segala tingkah laku kita, hendaknya kita tidak memercayai pertimbangan kita sendiri, melainkan percaya akan hikmat, kuasa dan kebaikan Allah. Oleh karena itu, kita harus mengikuti Sang Pemelihara dan tidak memaksakan kehendak kita sendiri. Ketika kita berserah dan tidak ngotot melakukan sesuatu, biasanya malah hasilnya sangat baik.
(dari "Tafsiran Kitab Amsal" [Surabaya: Momentum])
Orang-orang yang mengenal diri mereka sendiri dengan baik pastilah mendapati bahwa pengertian mereka hanyalah seperti buluh yang terkulai, yang pasti patah jika mereka bersandar kepadanya. Dalam segala tingkah laku kita, hendaknya kita tidak memercayai pertimbangan kita sendiri, melainkan percaya akan hikmat, kuasa dan kebaikan Allah. Oleh karena itu, kita harus mengikuti Sang Pemelihara dan tidak memaksakan kehendak kita sendiri. Ketika kita berserah dan tidak ngotot melakukan sesuatu, biasanya malah hasilnya sangat baik.
(dari "Tafsiran Kitab Amsal" [Surabaya: Momentum])
Minggu, 01 Desember 2013
Kalimat Penting: Pdt. Stephen Tong: Hamba Tuhan Reproduktif
"Seorang hamba Tuhan yang baik adalah yang reproduktif: menghasilkan banyak hamba Tuhan baru. Seorang guru sekolah minggu yang baik adalah yang mempengaruhi banyak pemuda-pemudi menjadi guru sekolah minggu. Seorang misionaris yang baik adalah yang mempengaruhi banyak orang menjadi misionaris, dan seterusnya".
Kalimat Penting: Pdt. Stephen Tong: Kualitas & Kuantitas
"Keep the quality first and the quanitity will come up".
(Peliharalah kualitas dan kuantitas akan menyusul mengikuti kualitas).
[Catatan saya: bila di dalam pelayanan kita menjaga kualitas yang terbaik di hadapan Tuhan, biarlah Tuhan yang menambah kuantitasnya. Prinsip ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus: barang siapa yang setia perkara kecil, kepadanya akan dipercayakan perkara besar].
(Peliharalah kualitas dan kuantitas akan menyusul mengikuti kualitas).
[Catatan saya: bila di dalam pelayanan kita menjaga kualitas yang terbaik di hadapan Tuhan, biarlah Tuhan yang menambah kuantitasnya. Prinsip ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus: barang siapa yang setia perkara kecil, kepadanya akan dipercayakan perkara besar].
Langganan:
Postingan (Atom)