Pertama, kitab ini menjelaskan kepada orang Yahudi asal mula hari raya Purim (kata 'pur' berarti 'undi' - 3:7; 9:26-27).
Kedua, kitab ini menunjukkan kesia-siaan kepercayaan pada takhayul sebagai penuntun hidup. Cara demikian (3:7, 13) hanya membawa malapetaka besar, bahkan maut, kepada mereka yang menjalankannya (bandingkan 6:13).
Ketiga, Kitab ini menunjukkan bahwa Allah Israel adalah Allah yang tertinggi atas seluruh manusia dan segala bangsa. Walaupun umat pilihan Allah tinggal jauh dari negeri asal mereka, namun Allah tetap berkuasa dan dapat menyelamatkan mereka dari segala ancaman atau bahaya.
Keempat, kitab ini menunjukkan bahwa walaupun dalam kedaulatanNya Tuhan sedang bekerja untuk melaksanakan kehendakNya, namun manusia tetap bertanggung jawab dan harus mengambil bagiannya. Maka, Mordekhai menggunakan kedudukannya di pintu gerbang Istana dengan bijaksana, sedangkan Ester memberanikan diri untuk bertindak demi penyelamatan bangsanya, dan dengan cara demikian kehendak Allah terlaksana. Walaupun nama Tuhan tidak pernah disebutkan dalam kitab ini, hal itu hanya membuktikan dengan lebih jelas bahwa Allah berdaulat setiap waktu dan bertindak melalui orang yang percaya kepadaNya (4:14b).
(dari buku "Pembimbing pada Pengenalan Perjanjian Lama")
Renungan, Kutipan, Ayat dalam Teologi Reformed untuk Memperlengkapi Gereja bagi Kemuliaan Tuhan
Jumat, 01 Maret 2013
Kamis, 28 Februari 2013
Memberi dan Mengasihi
"Anda dapat memberi tanpa mengasihi, namun Anda tak dapat mengasihi tanpa memberi".
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal". (Yoh. 3:16).
(dari buku "Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Wanita")
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal". (Yoh. 3:16).
(dari buku "Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Wanita")
Ibu Teresa dan Kasih
"Ketika Ibu Teresa menerima Hadiah Nobelnya, ia ditanya, 'Apa yang dapat kami lakukan untuk memajukan perdamaian dunia?' Ia menjawab, 'Pulanglah dan kasihilah keluarga kalian'".
"Keluarga", kata ibu Teresa, "adalah tempat untuk belajar akan Yesus. Tuhan telah mengirimkan keluarga - dalam kesatuan sebagai suami dan istri dan anak-anak - untuk menjadi kasihNya".
"Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu" (Ams. 3:3)
(dari "Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Wanita")
"Keluarga", kata ibu Teresa, "adalah tempat untuk belajar akan Yesus. Tuhan telah mengirimkan keluarga - dalam kesatuan sebagai suami dan istri dan anak-anak - untuk menjadi kasihNya".
"Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu" (Ams. 3:3)
(dari "Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Wanita")
Rabu, 27 Februari 2013
Francis Thompson: Anjing Pemburu dari Surga
Francis Thompson (1859-1907), seorang Penulis Puisi terkenal dari Inggris. Ia menghabiskan masa kecil yang sepi dan tanpa kasih sayang, dan berkali-kali gagal dalam usahanya menjadi seorang pendeta Katolik Roma, dokter (seperti ayahnya), dan prajurit. Ia berakhir tersesat di jalanan London, pernah kecanduan opium, sampai sepasang keluarga yang mengenal Kristus, menemukan kejeniusannya berpuisi dan menolongnya baik secara kerohanian maupun mencari kesempatan baginya untuk berpuisi. Keluarga ini dipakai Tuhan untuk mempublikasikan buku puisi pertamanya pada 1893.
Berikut ini kesaksian pertobatan Francis Thompson yang ditulis dalam bentuk puisi dalam terjemahan bebas:
Kujauhi Dia, sepanjang malam dan selama siang;
Kujauhi Dia, sepanjang rentang tahun-tahun;
Kujauhi Dia, dengan cara yang rumit
Dalam pikiranku sendiri; dan di tengah air mata
Ku bersembunyi dariNya, dan di bawah gelak tawa,
Harapan akan pandangan yang tinggi kukejar;
Dan berbalik tiba-tiba,
Tenggelam dalam bayang-bayang raksasa ketakutan
Dari sana Kaki yang kuat mengkuti, mengejar
Tetapi dengan pengejaran yang tidak tergesa-gesa,
Dan langkah yang tenang,
Kecepatan penuh pertimbangan, keagungan segera,
memukul - dan sebuah Suara memukul,
Lebih segera dari pada Kaki -
'semua hal yang mengkhianati kamu,
hai kamu yang mengkhianati AKU'.
[Thompson melihat Tuhan seperti Anjing Pemburu yang mengejar domba yang hilang. Keselamatan adalah anugerah Tuhan].
(Kesaksian Thompson juga ditambahkan dari Wikipedia selain bahan utamanya dari John Stott, "Mengapa Saya Seorang Kristen"
Berikut ini kesaksian pertobatan Francis Thompson yang ditulis dalam bentuk puisi dalam terjemahan bebas:
Kujauhi Dia, sepanjang malam dan selama siang;
Kujauhi Dia, sepanjang rentang tahun-tahun;
Kujauhi Dia, dengan cara yang rumit
Dalam pikiranku sendiri; dan di tengah air mata
Ku bersembunyi dariNya, dan di bawah gelak tawa,
Harapan akan pandangan yang tinggi kukejar;
Dan berbalik tiba-tiba,
Tenggelam dalam bayang-bayang raksasa ketakutan
Dari sana Kaki yang kuat mengkuti, mengejar
Tetapi dengan pengejaran yang tidak tergesa-gesa,
Dan langkah yang tenang,
Kecepatan penuh pertimbangan, keagungan segera,
memukul - dan sebuah Suara memukul,
Lebih segera dari pada Kaki -
'semua hal yang mengkhianati kamu,
hai kamu yang mengkhianati AKU'.
[Thompson melihat Tuhan seperti Anjing Pemburu yang mengejar domba yang hilang. Keselamatan adalah anugerah Tuhan].
(Kesaksian Thompson juga ditambahkan dari Wikipedia selain bahan utamanya dari John Stott, "Mengapa Saya Seorang Kristen"
Agustinus dari Hippo: Pertobatan dari Nafsu Seksual
[Sebagaimana kita tahu, bapa Gereja Agustinus (354-430) hidup bertahun-tahun dalam hubungan seksual di luar pernikahan dengan kekasihnya. Berikut ini kesaksian pribadinya]
Awan nafsu seksual lumpur kedagingan memenuhi udara. Dorongan tidak menentu dari masa pubertas membingungkan dan menutupi hatiku hingga tidak dapat membedakan antara cinta yang tulus dan nafsu kegelapan. Kebingungan di antara dua hal itu bergejolak dalam diriku. Hal itu menawan kelemahan masa mudaku, menelanku dalam bahaya keinginan yang menenggelamkan diriku dalam pusaran perilaku tidak bermoral...
Saat saya mengatakan ini dan meratap dalam pergumulan pahit dalam hatiku, tiba-tiba saya mendengar sebuah suara dari rumah tetangga berulang-ulang sepertinya suara anak laki-laki atau perempuan (saya tidak tahu), berkata dan mengulanginya berkali-kali, "ambil dan bacalah, ambil dan bacalah...". Saya menghapus air mata dan berdiri. Saya menerjemahkan hal itu hanya sebagai suatu perintah ilahi pada saya untuk membuka buku [Alkitab] dan membaca bab pertama yang akan saya temui... Maka saya bergegas kembali ke tempat di mana Alypius [teman Agustinus yang bersamanya] duduk. Di sana saya meletakkan buku Kisah Para Rasul ketika saya bangun. Saya menjangkaunya, membukanya dan dalam keheningan membaca kalimat pertama yang tertangkap oleh mata saya: "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:13-14). Saya juga tidak berkehendak merasa perlu untuk membaca lebih lanjut. Saat itu juga, dengan kata terakhir dari kalimat ini, seperti ada cahaya yang melepaskan dari segala keraguan masuk membanjiri hatiku. Semua bayang-bayang keraguan lenyap.
[Agustinus menganggap pengalamannya adalah hanya karena anugerah Allah, yaitu karunia cuma-cuma dari Allah dan bukan karena hasil usaha manusia. Ia menyatakan Allah telah menghidupkan seluruh panca indera spiritualnya - mendengar, melihat, mencium, merasa, dan menyentuh]:
Engkau [Tuhan] memanggil dan berteriak keras dan memecahkan ketulianku. Engkau bersinar dan memancar, Engkau mengusir kebutaanku. Engkau wangi, dan aku menarik nafasku dan sekarang ingin mencium lebih lagi wangiMu. Aku merasakan Engkau, dan saya tidak merasakan hal lain selain lapar dan haus akan Engkau. Engkau menyentuhku, dan saya dibakar untuk memperoleh kedamaian yang adalah kepunyaan Engkau.
(dari buku Confessions yang dicuplik oleh John Stott, dalam "Mengapa Saya Seorang Kristen")
Awan nafsu seksual lumpur kedagingan memenuhi udara. Dorongan tidak menentu dari masa pubertas membingungkan dan menutupi hatiku hingga tidak dapat membedakan antara cinta yang tulus dan nafsu kegelapan. Kebingungan di antara dua hal itu bergejolak dalam diriku. Hal itu menawan kelemahan masa mudaku, menelanku dalam bahaya keinginan yang menenggelamkan diriku dalam pusaran perilaku tidak bermoral...
Saat saya mengatakan ini dan meratap dalam pergumulan pahit dalam hatiku, tiba-tiba saya mendengar sebuah suara dari rumah tetangga berulang-ulang sepertinya suara anak laki-laki atau perempuan (saya tidak tahu), berkata dan mengulanginya berkali-kali, "ambil dan bacalah, ambil dan bacalah...". Saya menghapus air mata dan berdiri. Saya menerjemahkan hal itu hanya sebagai suatu perintah ilahi pada saya untuk membuka buku [Alkitab] dan membaca bab pertama yang akan saya temui... Maka saya bergegas kembali ke tempat di mana Alypius [teman Agustinus yang bersamanya] duduk. Di sana saya meletakkan buku Kisah Para Rasul ketika saya bangun. Saya menjangkaunya, membukanya dan dalam keheningan membaca kalimat pertama yang tertangkap oleh mata saya: "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:13-14). Saya juga tidak berkehendak merasa perlu untuk membaca lebih lanjut. Saat itu juga, dengan kata terakhir dari kalimat ini, seperti ada cahaya yang melepaskan dari segala keraguan masuk membanjiri hatiku. Semua bayang-bayang keraguan lenyap.
[Agustinus menganggap pengalamannya adalah hanya karena anugerah Allah, yaitu karunia cuma-cuma dari Allah dan bukan karena hasil usaha manusia. Ia menyatakan Allah telah menghidupkan seluruh panca indera spiritualnya - mendengar, melihat, mencium, merasa, dan menyentuh]:
Engkau [Tuhan] memanggil dan berteriak keras dan memecahkan ketulianku. Engkau bersinar dan memancar, Engkau mengusir kebutaanku. Engkau wangi, dan aku menarik nafasku dan sekarang ingin mencium lebih lagi wangiMu. Aku merasakan Engkau, dan saya tidak merasakan hal lain selain lapar dan haus akan Engkau. Engkau menyentuhku, dan saya dibakar untuk memperoleh kedamaian yang adalah kepunyaan Engkau.
(dari buku Confessions yang dicuplik oleh John Stott, dalam "Mengapa Saya Seorang Kristen")
Selasa, 26 Februari 2013
Tuhan Sepenuh Hati!
Tuhan...
tidak pernah...
memberi...
apapun...
separuh hati...
Tuhan selalu...
memberi...
dengan...
sungguh-sungguh...
sepenuh hati...
dan...
yang terbaik...
Janganlah...
kita...
separuh hati...
dalam...
meresponi...
berkat Tuhan...
tidak pernah...
memberi...
apapun...
separuh hati...
Tuhan selalu...
memberi...
dengan...
sungguh-sungguh...
sepenuh hati...
dan...
yang terbaik...
Janganlah...
kita...
separuh hati...
dalam...
meresponi...
berkat Tuhan...
Tuhan Setia!
Tuhan setia...
meski...
kita tidak...
setia...
Tuhan berjanji...
kita adalah...
milikNya...
hidup...
atau...
mati...
Janganlah...
kita...
mengkhianati...
kesetiaan Tuhan...
meski...
kita tidak...
setia...
Tuhan berjanji...
kita adalah...
milikNya...
hidup...
atau...
mati...
Janganlah...
kita...
mengkhianati...
kesetiaan Tuhan...
Langganan:
Postingan (Atom)