Ada 3 alasan mengapa orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak seharusnya putus asa.
Pertama, hidup kita berada dalam tangan Allah yang berdaulat bukan dalam tangan manusia yang terbatas. Kalau hidup kita berada dalam tangan manusia yang terbatas dan banyak kekurangan, sangat wajar bila kita putus asa. Manusia memang terbukti tidak mampu menangani banyak persoalan dan menyelesaikan banyak kebuntuan. Tetapi sejatinya hidup kita berada dalam tangan Allah yang berdaulat dan berkuasa. Tuhan pasti punya jalan keluar yang memuliakan Tuhan, membangun manusia dan dilaksanakan sesuai dengan cara dan waktu Tuhan.
Kedua, kita belum tahu ujung akhir dari persoalan ini sebenarnya apa. Kita belum tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Allah dengan peristiwa-peristiwa ini. Titik hari ini bukanlah akhir. Tugas kita adalah hidup sungguh-sungguh menyenangkan Tuhan dan mengejar kesucian. Sisanya, termasuk hal-hal yang kita tidak pahami, kita serahkan kepada Tuhan. Sumur, rumah Potifar dan penjara bukan ujung akhir hidup Yusuf. Sebagaimana kita sudah ketahui dari Alkitab, ujung akhirnya adalah ia bisa dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencana Tuhan menyelamatkan umat Israel secara fisik selama masa kelaparan hebat melanda dunia.
Ketiga, jangan kita lupa bahwa Tuhan berjanji untuk tidak membuang umatNya (1 Sam. 12:22). Bukan saja tidak membuang tetapi Tuhan menyertai dan membimbing umatNya. Roh Kudus melatih kita menuju keserupaan dengan Kristus. Mari kita minta kekuatan Tuhan seperti Daud mengalami penyertaan Tuhan dalam segala keadaan termasuk lembah kekelaman.
Renungan, Kutipan, Ayat dalam Teologi Reformed untuk Memperlengkapi Gereja bagi Kemuliaan Tuhan
Kamis, 31 Oktober 2013
3 Sikap Menghadapi Kegagalan
Pada waktu orang yang percaya kepada Kristus berada dalam titik nadir kehidupan, saat yang paling gagal dan paling sulit, ingatlah 3 hal ini:
Pertama, merendahkan diri. Yang paling gawat adalah sudah jatuh dalam dosa, tetapi masih merasa diri hebat dan meninggikan diri, bahkan mencuri kemuliaan Tuhan. Semua ini adalah kekejian di mata Tuhan.
Kedua, mengakui dosa dan bertobat. Mengakui saja bahwa itu adalah ketidakbenaran dan jangan membela diri, jangan mencari alasan atau menuduh orang lain. Akuilah saja dosa-dosa di hadapan Tuhan. Setelah itu, minta kekuatan untuk bertobat.
Ketiga, memohon pengampunan dan belas kasihan Tuhan. Kalau kita tidak datang kepada Tuhan yang mencipta dan menebus kita, kepada siapa lagi kita harus dan kita bisa datang? Marilah kita datang kepada sumber segala rahmat. Mintalah pengampunanNya dan harapkan belas kasihanNya.
Tuhan memberi kekuatan...
Pertama, merendahkan diri. Yang paling gawat adalah sudah jatuh dalam dosa, tetapi masih merasa diri hebat dan meninggikan diri, bahkan mencuri kemuliaan Tuhan. Semua ini adalah kekejian di mata Tuhan.
Kedua, mengakui dosa dan bertobat. Mengakui saja bahwa itu adalah ketidakbenaran dan jangan membela diri, jangan mencari alasan atau menuduh orang lain. Akuilah saja dosa-dosa di hadapan Tuhan. Setelah itu, minta kekuatan untuk bertobat.
Ketiga, memohon pengampunan dan belas kasihan Tuhan. Kalau kita tidak datang kepada Tuhan yang mencipta dan menebus kita, kepada siapa lagi kita harus dan kita bisa datang? Marilah kita datang kepada sumber segala rahmat. Mintalah pengampunanNya dan harapkan belas kasihanNya.
Tuhan memberi kekuatan...
Rabu, 30 Oktober 2013
J. I Packer: Menghormati Keagungan Tuhan (2)
Demikian juga Kristus, gembala yang baik, tidak pernah kehilangan jejak domba-dombaNya. Merupakan satu kesalahan dan sikap kurang hormat untuk menuduh bahwa Allah melupakan atau mengabaikan atau kehilangan minat terhadap keadaan dan kebutuhan umatNya sendiri. Jika Anda pernah memiliki pemikiran bahwa Allah telah meninggalkan Anda dalam keadaan kekeringan dan tak berdaya, [mintalah] kasih karunia untuk membuat Anda merasa malu. Sikap pesimis dan tidak percaya semacam itu sangat merendahkan Allah dan Juruselamat kita yang besar.
Ketiga, "Tidakkah kau tahu dan tidakkah kau dengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu" (Yes. 40:28). Pertanyaan ini menegur kelambanan kita dalam mempercayai keagungan Allah. Allah membuat kita merasa malu atas sikap kita yang tidak percaya. Apa masalahnya? Ia bertanya. Apakah kamu membayangkan bahwa Aku, Sang Pencipta, telah menjadi tua dan kelelahan? Tidak adakah seseorang yang pernah memberitahukan kebenaran tentang Aku?
Teguran ini pantas diterima sebagian besar dari kita. Betapa lamban kita mempercayai Allah sebagai Allah yang berdaulat, Mahatahu dan Mahakuasa! Betapa kecilnya kita merendahkan keagungan Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Kita perlu "menanti-nantikan Tuhan" saat merenungkan kebesaranNya, sampai menemukan kekuatan kita diperbaharui melalui penulisan hal-hal ini dalam hati kita.
(dari buku "Mengenal Allah")
Ketiga, "Tidakkah kau tahu dan tidakkah kau dengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu" (Yes. 40:28). Pertanyaan ini menegur kelambanan kita dalam mempercayai keagungan Allah. Allah membuat kita merasa malu atas sikap kita yang tidak percaya. Apa masalahnya? Ia bertanya. Apakah kamu membayangkan bahwa Aku, Sang Pencipta, telah menjadi tua dan kelelahan? Tidak adakah seseorang yang pernah memberitahukan kebenaran tentang Aku?
Teguran ini pantas diterima sebagian besar dari kita. Betapa lamban kita mempercayai Allah sebagai Allah yang berdaulat, Mahatahu dan Mahakuasa! Betapa kecilnya kita merendahkan keagungan Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Kita perlu "menanti-nantikan Tuhan" saat merenungkan kebesaranNya, sampai menemukan kekuatan kita diperbaharui melalui penulisan hal-hal ini dalam hati kita.
(dari buku "Mengenal Allah")
J. I Packer: Menghormati Keagungan Tuhan (1)
Sekarang, izinkan Yesaya [pasal 40] menerapkan doktrin Alkitab tentang kebesaran Allah kepada kita, dengan mengajukan tiga pertanyaan yang ia katakan dengan nama Allah kepada orang Israel yang sedang kecewa dan putus asa.
Pertama, "Dengan siapakah hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti Dia? Firman Yang Mahakudus" (Yes. 40:25). Pertanyaan ini menegur pikiran yang salah tentang Allah. Pemikiranmu tentang Allah terlalu manusiawi" kata Luther kepada Erasmus. Di sinilah kita seringkali tersesat. Pemikiran kita tentang Allah tidak cukup besar. Kita tidak dapat melihat hikmat dan kuasaNya yang tidak terbatas melalui kenyataan. Karena kita sendiri terbatas dan lemah, kita membayangkan bahwa pada titik tertentu Allah juga demikian, dan kita merasa sulit untuk mempercayai bahwa Ia tidak seperti itu. Kita mengira Allah terlalu kecil seperti halnya kita. Luruskan kesalahan itu, firman Allah; belajarlah mengakui keagungan Allah dan Juruselamat yang tidak tertandingi.
Kedua, "Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" (Yes. 40:27). Pertanyaan ini menegur pemikiran yang salah tentang diri kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita seperti halnya Ia tidak meninggalkan Ayub. Ia tidak pernah meninggalkan seorangpun yang Ia kasihi.
bersambung...
(dari buku "Mengenal Allah" [Yogyakarta: Andi])
Pertama, "Dengan siapakah hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti Dia? Firman Yang Mahakudus" (Yes. 40:25). Pertanyaan ini menegur pikiran yang salah tentang Allah. Pemikiranmu tentang Allah terlalu manusiawi" kata Luther kepada Erasmus. Di sinilah kita seringkali tersesat. Pemikiran kita tentang Allah tidak cukup besar. Kita tidak dapat melihat hikmat dan kuasaNya yang tidak terbatas melalui kenyataan. Karena kita sendiri terbatas dan lemah, kita membayangkan bahwa pada titik tertentu Allah juga demikian, dan kita merasa sulit untuk mempercayai bahwa Ia tidak seperti itu. Kita mengira Allah terlalu kecil seperti halnya kita. Luruskan kesalahan itu, firman Allah; belajarlah mengakui keagungan Allah dan Juruselamat yang tidak tertandingi.
Kedua, "Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" (Yes. 40:27). Pertanyaan ini menegur pemikiran yang salah tentang diri kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita seperti halnya Ia tidak meninggalkan Ayub. Ia tidak pernah meninggalkan seorangpun yang Ia kasihi.
bersambung...
(dari buku "Mengenal Allah" [Yogyakarta: Andi])
Selasa, 29 Oktober 2013
Konfirmasi Tuhan (2)
Konfirmasi Tuhan dapat terjadi melalui berbagai cara. Di dalam pelayanan penginjilan di daerah-daerah yang sulit, kerap kali Tuhan menyertai pelayanan tersebut dengan mujizat untuk meneguhkan berita Injil (Ibr. 2:4). Tetapi yang lebih penting adalah konfirmasi Tuhan melalui penyertaan kuasa Tuhan sehingga orang-orang yang diinjili terbuka hati untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Ketika hamba-hamba Tuhan dan orang percaya sejati dihina oleh manusia, kerap kali Tuhan mengkonfirmasi mereka dengan membongkar kebobrokan manusia yang menghina mereka sehingga masyarakat menjadi tahu siapa yang benar dan siapa yang tidak benar. Konfirmasi Tuhan juga dapat terjadi melalui Tuhan menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang menghina pekerja dan pekerjaan Tuhan. Ada bentuk lain lagi yakni Tuhan mengkonfirmasi hamba-hamba Tuhan melalui menambah jumlah orang yang menjadi percaya dalam pemberitaan Injil mereka.
Tujuan akhir dari konfirmasi Tuhan sebenarnya bukanlah memuliakan hamba-hamba Tuhan tetapi memuliakan Tuhan sendiri. Pada waktu manusia menghina hamba-hamba Tuhan, mereka sebenarnya sedang menghina Tuhan. Banyak hamba Tuhan yang ketika dihina tidak membela diri, tidak mengancam dan tidak mencaci maki. Mereka mengambil jalan seperti Kristus (1 Ptr. 2) dan menyerahkan kepada Allah yang adil. Pada waktunya Tuhan, Tuhan mengkonfirmasi pelayanan hamba-hambaNya yang setia. Tuhan ditinggikan karena konfirmasi itu.
Konfirmasi Tuhan (1)
Konfirmasi Tuhan merupakan ciri khas identitas dan kekuatan pelayanan hamba-hamba Tuhan dalam Alkitab dan dalam sejarah. Mereka diragukan oleh komunitas sendiri dan dihina oleh dunia. Meski demikian, Tuhan yang memanggil mereka tidak tinggal diam. Tuhan mengkonfirmasi mereka dengan cara dan waktu Tuhan.
Pada waktu Nuh membuat bahtera, banyak orang yang tidak percaya. Terbukti yang mengikutinya hanya 7 orang. Tetapi kemudian Tuhan mengkonfirmasi pemberitaan Nuh melalui air bah. Ketika Lot mengajak menantunya untuk keluar dari Sodom, mereka bukan saja tidak mau malah menertawakannya. Tuhan mengkonfirmasi Lot melalui peristiwa api belerang dari langit. Konfirmasi Tuhan dalam Alkitab yang paling jelas adalah ketika Elia "bertarung" melawan nabi-nabi Baal. Tuhan menyatakan bahwa Elia adalah hambaNya melalui cara api dari langit membakar habis korban persembahan sampai-sampai air di parit juga dijilat api.
Hamba-hamba Tuhan di Alkitab yang sejati tidak pernah mencari dukungan, persetujuan dan konfirmasi manusia. Mereka bersandar kepada konfirmasi Tuhan. Meski mereka dihina oleh manusia tetapi Tuhan akan membuktikan bahwa mereka adalah hamba Tuhan sejati yang sungguh-sungguh dipanggil oleh Tuhan.
Pada waktu Nuh membuat bahtera, banyak orang yang tidak percaya. Terbukti yang mengikutinya hanya 7 orang. Tetapi kemudian Tuhan mengkonfirmasi pemberitaan Nuh melalui air bah. Ketika Lot mengajak menantunya untuk keluar dari Sodom, mereka bukan saja tidak mau malah menertawakannya. Tuhan mengkonfirmasi Lot melalui peristiwa api belerang dari langit. Konfirmasi Tuhan dalam Alkitab yang paling jelas adalah ketika Elia "bertarung" melawan nabi-nabi Baal. Tuhan menyatakan bahwa Elia adalah hambaNya melalui cara api dari langit membakar habis korban persembahan sampai-sampai air di parit juga dijilat api.
Hamba-hamba Tuhan di Alkitab yang sejati tidak pernah mencari dukungan, persetujuan dan konfirmasi manusia. Mereka bersandar kepada konfirmasi Tuhan. Meski mereka dihina oleh manusia tetapi Tuhan akan membuktikan bahwa mereka adalah hamba Tuhan sejati yang sungguh-sungguh dipanggil oleh Tuhan.
Senin, 28 Oktober 2013
Sikap Esau Yang Berbahaya
Kejadian 25:
25:29 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.
25:30 Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.
25:31 Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu."
25:32 Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?"
25:33 Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.
25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.
Esau makan dan minum lalu berdiri dan pergi. Ini adalah ekspresi begitu dinginnya ia ketika berbuat dosa. Seolah-olah tidak ada gangguan hati nurani. Dalam tradisi timur, anak yang makan dan minum lalu berdiri dan pergi adalah anak yang kurang ajar karena piringnya tidak diambil dan ditaruh di dapur.
Esau memandang ringan beberapa unsur: kehidupan, hak kesulungan, dosa dan hadirat Allah. Ia tidak menghormati Allah.
Perhatikan Amsal 14:16: "Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman." Esau berbuat dosa dan merasa aman.
Marilah kita memikirkan perasaan dan hati Tuhan dalam segala hal...
25:29 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.
25:30 Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.
25:31 Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu."
25:32 Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?"
25:33 Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.
25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.
Esau makan dan minum lalu berdiri dan pergi. Ini adalah ekspresi begitu dinginnya ia ketika berbuat dosa. Seolah-olah tidak ada gangguan hati nurani. Dalam tradisi timur, anak yang makan dan minum lalu berdiri dan pergi adalah anak yang kurang ajar karena piringnya tidak diambil dan ditaruh di dapur.
Esau memandang ringan beberapa unsur: kehidupan, hak kesulungan, dosa dan hadirat Allah. Ia tidak menghormati Allah.
Perhatikan Amsal 14:16: "Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman." Esau berbuat dosa dan merasa aman.
Marilah kita memikirkan perasaan dan hati Tuhan dalam segala hal...
Langganan:
Postingan (Atom)