Sabtu, 30 November 2013

Ayat-Ayat: Celakalah (Luk. 6:24-26- BIS)

[Versi Bahasa Indonesia Sehari-Hari]

Luk 6:24  Tetapi celakalah kalian yang kaya sekarang ini; sebab kalian sudah mengalami kenikmatan!

Luk 6:25  Celakalah kalian yang kenyang sekarang ini; sebab kalian akan kelaparan! Celakalah kalian yang tertawa sekarang ini; sebab kalian akan bersedih hati dan menangis!

Luk 6:26  Celakalah kalian, jika semua orang memujimu; sebab begitu juga nenek moyang mereka memuji nabi-nabi palsu zaman dahulu."

Ayat-Ayat: Berbahagialah (Luk. 6:20-23 - BIS)

[Versi Bahasa Indonesia Sehari-Hari]

Luk 6:20  Yesus memandang pengikut-pengikut-Nya lalu berkata, "Berbahagialah kalian orang-orang miskin, karena kalian adalah anggota umat Allah!

Luk 6:21  Berbahagialah kalian yang lapar sekarang; kalian akan dikenyangkan! Berbahagialah kalian yang menangis sekarang; kalian akan tertawa!

Luk 6:22  Berbahagialah kalian kalau dibenci, ditolak, dihina dan difitnah oleh karena Anak Manusia!

Luk 6:23  Nabi-nabi pada zaman dahulu diperlakukan begitu juga. Kalau hal itu terjadi hendaklah kalian bersenang hati dan menari dengan gembira, sebab besarlah upah yang tersedia untuk kalian di surga.

Jumat, 29 November 2013

Bagaimana Kita Menghormati Tuhan Dalam Ibadah?

Bagaimana kita harus menghormati Tuhan dalam ibadah? Beberapa saran praktis:

Pertama, usahakanlah sedapat-dapatnya jangan terlambat dalam ibadah. Mengapa kita tidak boleh terlambat ke bandara tetapi boleh terlambat dalam ibadah? Berarti ketakutan ketinggalan pesawat lebih penting dari ketakutan kepada Tuhan?

Kedua, berpakaianlah yang sopan dan anggun. Banyak orang kalau pergi ke resepsi pernikahan atau konser musik klasik, menggunakan pakaian yang sangat anggun. Sebaliknya, kalau ke gereja, pakaiannya asal-asalan. Banyak orang percaya lebih menghormati mempelai ketimbang menghormati Tuhan.

Ketiga, persiapkanlah persembahan. Banyak orang percaya selalu mempersiapkan ang pao kalau ke resepsi pernikahan, bahkan keluarga mempelai mempersiapkan perhiasan emas untuk diberikan kepada mempelai tetapi kalau dalam ibadah, memberi persembahan asal-asalan, seadanya. Banyak orang yang pura-pura ke toilet pada waktu kantong persembahan diedarkan hanya karena di dompet tinggal uang seratus ribu satu lembar. Orang seperti ini dosanya double. Sudah tidak memberi persembahan, masih menipu dan berpura-pura lagi.

Keempat, sepenuh hati memuji Tuhan dan mendengarkan firman Tuhan. Yang terbaik haruslah dipersembahkan kepada Tuhan.

Kelima, tidak membiarkan bunyi handphone dipakai setan mengganggu ibadah. Pada tempat-tempat serius seperti pembuatan visa atau istana presiden, peserta dilarang membawa HP dan HPnya diletakkan di locker. Tetapi dalam ibadah di mana Raja di atas segala raja hadir, bunyi HP bukan saja kerap terdengar, malah banyak orang yang berani menelpon ketika ibadah sedang berlangsung. Sesuatu tindakan yang tidak mungkin dilakukan di depan presiden.

Mengapa Harus Menghormati Tuhan Dalam Ibadah?

Mengapa kita harus menghormati Tuhan dalam ibadah?

Pertama, identitas Tuhan menuntut kita harus menghormati Tuhan. Tuhan adalah Pencipta alam semesta; Tuhan adalah Penebus jiwa orang percaya; Tuhan adalah Pemelihara segala sesuatu. Tuhan layak dan berhak untuk dihormati. Kita wajib dan harus menghormati Tuhan. Jikalau kita mengatakan bahwa kita beribadah kepada Tuhan, kita harus menghormatiNya.

Kedua, karena Tuhan hadir dalam ibadah. Tuhan Yesus berkata bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, Ia hadir. Kalau Tuhan, Raja di atas segala raja, Pencipta alam semesta hadir, bagaimana bisa kita tidak menghormatiNya?

Ketiga, Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa hormat dan takut kepada Tuhan adalah cara ibadah yang berkenan kepada Tuhan. Ibrani 12:28-29 berkata, "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan."

Keempat, Alkitab mencatat bahwa Allah memurkai orang-orang yang tidak menghormati Tuhan. Setelah Uzia menjadi kuat dan kerajaan Yehuda menjadi besar, ia menjadi tinggi hati dan melakukan perbuatan yang merusak. Uzia merasa diri layak dalam ibadah dan merampas hak imam untuk membakar ukupan. Di sini, Uzia tidak menghormati Tuhan. Tuhan lalu mengutuknya. Anak-anak Imam Eli yang tidak menghormati Tuhan dalam ibadah juga dimurkai oleh Tuhan.

Kamis, 28 November 2013

Louis Berkhof: Perjanjian (Kovenan) Anugerah (2)

Perjanjian (Kovenan) anugerah dapat didefinisikan sebagai perjanjian yang sangat baik antara Allah yang dilawan dan orang berdosa yang melawan tetapi dipilih, di mana Allah menjanjikan keselamatan melalui iman di dalam Kristus dan orang berdosa menerima janji ini dengan penuh rasa percaya, dan perjanjian ini memberikan janji suatu hidup yang beriman dan penuh ketaatan.

[Isi dari Perjanjian Anugerah adalah]

Kedua, respons manusia. Tanggapan atau respons manusia atas janji-janji Allah dinyatakan dalam berbagai bentuk dan sifat dari tanggapan itu ditentukan oleh janji-janji itu. (a) Secara umum hubungan antara perjanjian Allah dan orang percaya secara pribadi atau orang-orang percaya secara kolektif disebutkan sebagai perjanjian Allah dan orang percaya secara kolektif disebutkan sebagai hubungan yang dekat antara suami dan isteri, pengantin laki-laki dan pengantin wanita, seorang bapa dengan anak-anaknya. Hubungan ini mengandung makna bahwa respons dari mereka yang memperoleh berkat-berkat perjanjian akan menjadi sebuah kasih yang benar, setia, dapat dipercaya, berkorban dan menyerahkan diri sepenuhnya.

(b) kepada janji umum "Aku akan menjadi Allahmu" manusia menjawab "aku akan menjadi umatMu" dan dengan membuang undi bersama umat Allah.

(c) Dan kepada janji pembenaran kepada pengampunan dosa, pengangkatan sebagai anak dan hidup kekal, manusia memberi respons dengan cara beriman kepada Tuhan Yesus Kristus dengan sungguh beriman kepadaNya sepanjang waktu dan kekekalan, dan dengan suatu hidup yang taat dan penyerahan hidup yang taat kepada Allah.

(dari buku "Teologi Sistematika: Doktrin Manusia")

Louis Berkhof: Perjanjian (Kovenan) Anugerah (1)

Perjanjian (Kovenan) anugerah dapat didefinisikan sebagai perjanjian yang sangat baik antara Allah yang dilawan dan orang berdosa yang melawan tetapi dipilih, di mana Allah menjanjikan keselamatan melalui iman di dalam Kristus dan orang berdosa menerima janji ini dengan penuh rasa percaya, dan perjanjian ini memberikan janji suatu hidup yang beriman dan penuh ketaatan.

[Isi dari Perjanjian (Kovenan) Anugerah adalah]

Pertama, janji-janji Allah. Janji Allah yagn utama yang mencakup semua janji yang lain tercakup dalam kata-kata yang senantiasa diulang, "supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu" (Kej. 17:7). Janji ini kemudian dapat kita temukan berulang kali disebut dalam ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang membicarakan tentang masa yang baru dan hidup perjanjian atau mengacu dalam suatu pembaharuan perjanjian itu, Yer. 31:33; 32:38-40; Yeh. 34:23-25, 30, 31; 36:25-28; 37:26-27; 2 Kor. 6:16-18; Ibr. 8:10.

Janji itu sepenuhnya digenapi nanti pada saat Yerusalem baru turun dari surga Allah, dan Bait Allah memancarkan kemuliaan di antara manusia. Akhirnya kita mendengar gemanya yang terakhir dalam Why 21:3. Janji yang sangat agung ini tergema kembali dalam pernyataan pujian mereka yang berhadapan dengan hubungan perjanjian dengan Allah, "Yehova adalah Allahku". Satu janji ini sesungguhnya mencakup semua janji yang lain, seperti (a) janji berbagai berkat selama hidup dalam dunia, yang seringkali melambangkan berkat rohani; (b) janji pembenaran termasuk di dalamnya pengangkatan sebagai anak, dan klaim atas hidup yang kekal; (c) janji Roh Kudus bagi pelaksanaan yang penuh dan cuma-cuma atas karya penebusan, dan bagi semua berkat keselamatan; (d) dan janji pemuliaan akhir dalam suatu hidup yang tak pernah berakhir, band Ayb 19:25-27; Mzm 16:11; 73:24-26; Yes. 43:25; Yer. 31:33, 34; Yeh. 36:27; Dan. 12:2,3; Gal. 4:5,6; Tit. 3:7; Ibr. 11:7; Yak. 2:5.

(dari buku "Teologi Sistematika: Doktrin Manusia")

Rabu, 27 November 2013

Pdt. Billy Kristanto: Mengapa Saat Teduh? (2)

Sekarang kita akan melihat kaitan saat teduh dengan doktrin keselamatan. Adalah merupakan suatu kerugian jika kita hanya mengerti urusan keselamatan hanya dengan kategori belum diselamatkan atau sudah diselamatkan. Dualisme seperti ini, sekalipun tentu saja ada (dan banyak!) benarnya, namun sesungguhnya acap kali mereduksi (mempersempit) pengertian doktrin keselamatan. Kaum Injili yang hanya melihat urusan keselamatan hanya dalam perspektif apakah seseorang sudah atau belum diselamatkan saja juga akan mencurahkan energinya semata-mata menantang orang dari belum menuju sudah. Sesudah itu apa? Sesudah itu ya sudah. Padahal kenyataannya bagi yang sudah pun juga masih banyak belum-nya: belum luas hati, belum mengerti perlunya pengorbanan, belum bisa taat, belum
mengasihi orang lain dengan tulus, belum mirip Kristus.

Di sini kita melihat bahwa diselamatkan pun bukan hanya dimensi momen (kapan diselamatkan)
melainkan juga proses (keselamatan yang semakin teguh). Konsep yang terakhir ini khususnya banyak dipikirkan oleh theolog seperti Jean Calvin namun sayangnya banyak kaum Injili (bahkan Reformed) yang agaknya lebih berkiblat kepada teologi pertobatan Pietisme dari Halle (Francke) yang lebih
menekankan momen pertobatan. Dari perspektif teologi biblika, secara gamblang dapat dikatakan ada perbedaan penekanan dalam konsep union with Christ a la Paulus dan a la Yohanes. Paulus lebih menekankan doktrin keselamatan yang menekankan kesempurnaan korban Kristus (meskipun bukan
tanpa konsep gradual) sementara Yohanes lebih menekankan partisipasi orang percaya di dalam Kristus (meskipun bukan tanpa pemikiran kesempurnaan korban Kristus). Sayang jika kita hanya menekankan satu bagian sementara kehilangan bagian yang lain.

Karena bagi orang yang sudah diselamatkan pun masih banyak wilayah yang belum sempurna, maka Allah memberikan kita apa yang disebut dengan alat alat/saluran anugerah (means of grace). Yang dimaksud dengan alat-alat anugerah misalnya seperti doa dan sakramen. Dalam batasan yang luas kita
dapat menggolongkan saat teduh juga sebagai alat anugerah. Alat-alat anugerah ini bukanlah yang menyelamatkan kita (yang menyelamatkan kita adalah Kristus yang mati dan bangkit), namun keselamatan yang kita peroleh bukanlah tanpa alat-alat anugerah. Kita memang bukan diselamatkan oleh doa atau oleh sakramen, namun orang yang percaya bukan menghayati keselamatannya tanpa doa dan sakramen. Ada pandangan yang fatal dan keliru jika orang berpendapat bahwa mereka yang menekankan pentingnya alat-alat anugerah sedang mengaburkan keselamatan hanya oleh anugerah Tuhan. Sebaliknyalah yang benar: justru karena saya mengerti saya diselamatkan oleh anugerah Tuhan saja, maka saya dengan bebas dapat menggunakan alat-alat anugerahNya karena saya tahu bukan alat-alat itulah yang menyelamatkan melainkan anugerahNya saja.

Kita mengambil contoh sederhana saja: ketika membersihkan piring kotor kita menggunakan air yang dialirkan dari pipa. Yang membersihkan piring kotor itu tentunya adalah air dan bukan pipa. Namun pengertian bahwa airlah yang membersihkan piring kotor tidak berarti saya tidak membutuhkan pipanya. Dan ketika kita menekankan perlunya dan pentingnya pipa, tentu saja ini juga tidak berarti bahwa saya sedang menyangkali bahwa airlah yang sebenarnya membersihkan piring yang kotor. Hal yang sama juga berlaku bagi alat-alat anugerah. Melalui alat-alat/saluran anugerah itu saya memperoleh anugerah Tuhan yang olehnya (anugerah) saya diselamatkan.

Karena itu kita juga bisa menekankan pentingnya saat teduh dalam konteks alat/saluran anugerah ini. Saat teduh bukanlah yang memberkati kita, yang memberkati kita adalah kehadiran Tuhan dalam Firman-Nya yang kita peroleh melalui saat teduh itu. Dalam pemikiran Calvin, alat-alat anugerah mendapat perhatian atau penekanan yang besar. Dan tentu saja Calvin bukan menemukan pengertian ini dari dirinya sendiri melainkan dari mempelajari pergumulan orang-orang yang sebelum dia dan dari kitab suci. Saat teduh sangat berkaitan dengan konsep keselamatan karena kita tahu mereka yang
diselamatkan adalah mereka yang dipilih, yang disucikan dan dipisahkan (consecrated) bagi suatu tujuan yang mulia. Konsep konsekrasi ini juga hadir dalam saat teduh: kita memisahkan waktu dan tempat khusus bagi kehadiran Tuhan. Ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak Mahahadir dalam waktu atau
tempat yang lain, melainkan melalui saat teduh kita secara khusus menghayati kehadiran Tuhan (yang hadir dalam Firman-Nya).

Mereka yang tidak mengerti konsep kekhususan ini juga pada dasarnya tidak akan mengerti mengapa harus beribadah pada hari yang khusus dan bukan setiap hari atau sembarang hari. Mengapa beribadah di Bait Allah dan bukan pada sembarangan tempat. Mengapa orang Israel begitu terpukul pada saat 
pembuangan? Mengapa tidak beribadah di sembarang tempat saja, toh Tuhan hadir di mana-mana, mengapa harus begitu susah jika tidak beribadah di Bait Allah? Jawabannya sederhana: karena mereka mengerti ada konsep kehadiran Allah secara khusus dalam Bait-Nya. Mereka yang tidak mengerti 
pentingnya yang particular (kehadiran Allah secara khusus) akan sulit untuk menghayati yang universal (kemahahadiran Allah di segala tempat dan waktu). 

Melalui saat teduh kita menikmati secara konkret persekutuan dengan Allah dan Kristus-Nya. Dalam doktrin keselamatan kita menekankan union with God atau union with Christ maka dalam saat teduh kita belajar untuk menghayati kesatuan dengan Allah dan dengan Kristus itu. Melalui saat teduh kita mengalami transformasi dan visi hidup yang senantiasa jelas (Markus 1:38). Kita tidak gampang diombang-ambingkan oleh tuntutan manusia (Markus 1:36-37). Yesus sendiri yang adalah Allah tetap
menyisihkan (consecrate) waktu dan tempat yang khusus (Markus 1:35). Jika Yesus yang sempurna tetap menyediakan waktu teduh di hadapan Bapa-Nya, terlebih kita manusia yang memiliki segudang kelemahan, kita jauh lebih membutuhkan saat-saat yang khusus ini untuk menghayati persekutuan
kita dengan Bapa.

(dari Bulletin Rein, MRII Berlin)