Jumat, 31 Oktober 2014

Cornelius Van Til: Antitesis Dalam Pendidikan (1)

Prinsip hidup orang percaya berlawanan total dengan prinsip hidup orang tidak percaya. Hal ini terjadi dalam dunia pendidikan sama seperti dalam gereja. Berdasarkan hal ini, kita akan membahas antitesis dalam pendidikan. Antitesis ini terjadi di seluruh bidang pendidikan. Antitesis ini mula-mula terjadi pada filsafat pendidikan; sangat penting tetapi sering tidak diperhatikan. Kedua, antitesis muncul dalam aspek materi yang disampaikan yakni kurikulum. Terakhir, antitesis muncul ketika kita memikirkan sang anak atau anak muda yang akan dididik. Dalam tiga aspek inilah kita akan membahas antitesis dalam filsafat pendidikan.

Orang non-Kristen percaya bahwa alam semesta menciptakan allah. Mereka memiliki allah yang terbatas. Orang Kristen percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta. Mereka memiliki alam semesta yang terbatas. Oleh karena itu, orang non Kristen tidak berpikir untuk membawa seorang anak berhadapan langsung dengan Allah. Mereka ingin membawa anak tersebut berhadapan langsung dengan dunia. Pendidikan non-Kristen merupakan pendidikan tanpa Allah (Godless education). Apa yang paling penting bagi kita dalam pendidikan, yang mutlak tidak boleh diabaikan, justru mereka tinggalkan sama sekali.

Pendidikan tanpa Allah mengabaikan atau menolak bahwa manusia diciptakan untuk bertanggung jawab kepada Allah. Hal ini mengimplikasikan bahwa dosa bukanlah pelanggaran terhadap hukum Allah. Karenanya Kristus tidak perlu mati menggantikan kita. Oleh karena itu, pendidikan tanpa Tuhan atau non-teistik juga merupakan pendidikan non-Kristen atau anti-Kristen. Tentu saja pendidikan non-Kristen yang tanpa Allah akan menjadi humanistik, yakni berpusat pada manusia. Jika manusia tidak harus hidup bagi Allah, dia dapat hidup untuk dirinya sendiri. Jika kita menginginkan suatu pendidikan yang berpusat pada Allah dan yang benar-benar Kristen, kita harus mendobrak seluruh filsafat pendidikan yang ada di sekitar kita.

Orang non-Kristen percaya bahwa manusia dikelilingi oleh dunia yang benar-benar tidak dapat diketahui. Manusia meraba-raba dalam kegelapan, hanya dengan sebuah cahaya kecil yaitu akalnya sendiri yang memancar sebagai reflektor dalam kabut. Orang Kristen percaya bahwa pada mulanya manusia hidup dalam terang wahyu Allah. Dan di dalam Kristus sebagai wahyu yang sejati dan di dalam Alkitab sebagai wahyu yang tertulis, secara prinsip manusia dipulihkan kepada cahaya Allah yang sejati.

Pendidikan non-Kristen mula-mula berpacu menurut pikirannya, dan berdelusi bahwa ia telah berhasil menembus kegelapan, atau berhenti sama sekali dalam keputusasaan. Seringkali para pendidik non-Kristen benar-benar membuang ide tentang tujuan pendidikan yang pasti. Mereka berbicara mengenai "penyesuaian diri fungsional" pada lingkungannya. Tetapi jika seorang pengemudi tidak tahu jalan dan mengemudi di tengah kabut, mengapa ia harus tancap gas? Sebagai orang Kristen, kita tahu apa tujuan pendidikan. Kita juga tahu apa yang seharusnya menjadi isi pendidikan. Akhirnya, kita tahu bahwa metode yang benar-benar Kristen harus digunakan untuk mengajarkan isi pendidikan yang benar-benar Kristen.

bersambung...

(dari buku "Dasar Pendidikan Kristen" [Surabaya: Momentum])